SURAH AL-QUR’AN DAN SUSUNANYA
A.
Pengertian Surah
Dari
segi bahasa kata surah jamaknya suwar (سوار) yang berarti
kedudukan atau tempat yang tinggi, sesuai dengan kedudukan Al-Qur’an karena dia
diturunkan dari tempat yang tinggi yaitu lauh Al-mahfuzh dari sisi Tuhan yang
Maha Tinggi pula yaitu Alloh swt.[1]
Menurut Manna
al-Qattan, surah adalah: “sejumlah ayat Qur`an yang mempunyai
permulaan dan kesudahan”.
Sedangkan
istilah surah menurut Taufik merupakan nama yang digunakan untuk
merujuk “bab” al-Qur`an yang seluruhnya berjumlah 114 (menurut
perhitungan mushaf Ustmani yang disepakati). Sebagaimana kata surah muncul
sembilan kali didalam al-Qur`an dalam bentuk tunggal dan satu kali dalam bentuk
jamak (suwar).
Menurut
Al-Ja’bury, surah adalah suatu bacaan yang terdiri dari ayat-ayat, mempunyai pembukaan
dan penutup, paling sedikit terdiri dari tiga ayat.[2]
B.
Penamaan Surah
Umumnya, pemberian nama surah disesuaikan dengan tema
yang dibicarakan surah tersebut atau dengan nama yang telah ada dalam surah,
seperti “al-Baqarah”, “Ali ‘Imran”, dan “al-Isra’”. Dalam naskah-naskah kuno
aI-Qur’an, nama-nama surah sering dituliskan dengan nama semisal “Surah yang
membicarakan sapi betina (al-Baqarah)” atau “Surah yang membicarakan keluarga
Imran (Ali ‘Imran). Nama-nama dan sifat-sifat ini telah ada pada masa awal
Islam berdasarkan kesaksian atsar dan sejarah. Bahkan, nama sebagian surah
telah disebutkan dalam beberapa hadits Nabi, seperti surah
Al-Baqarah,
Ali ‘Imran, Hud, dan al-Waqi’ah. Nama-nama surah dalam Al-Qur’an tidak selalu
menunjukkan makna kandungan atau pembahasan dalam suatu surah, penamaan suatu
surah juga tidak selalu diambil dari kata awal suatu surah. Seperti surah ke-16
yang diberi nama An-Nahl yang berarti lebah. Dalam surah tersebut kata An-Nahl
dsebutkan pada ayat 68 yang terletak lebih dari separuh ayat dari awalnya, dan
ayat 68 hanya satu-satunya yang membicarakan lebah. Juga pada surah ke-26 yang
diberi nama Ash-Shura, ayat yang satu-satunya menyebutkan kata tersebut hanya
terdapat dalam ayat 224 yang merupakan ayat terakhir dari surah tersebut.
C.
Pembagian Surah (dari aspek panjang dan pendek)
1. At-Thiwal (الطوال = panjang), yaitu surah yang jumlah ayatnya lebih dari
100 sampai 200-an atau memang lebih panjang dari yang lain. Surah panjang ini
ada 7, oleh karena itu disebut As-Sab’u At-thiwal yaitu: Al-Baqarah (286),
Ali-Imran (200), An-Nisa (176), Al-Maidah (120), Al-An’am (165), Al-A’raf (206)
dan yang ketujuhnya ada perbedaan pendapat, ada yang mengatakan Al-Anfal (75) dan
At-Thaubah (129) sekaligus karena keduanya tidak dipisahkan dengan
basmalah. Dan ada juga yang mengatakan surah yang ketujuh adalah surah
Yunus (108).
2. Al-Mi’un, yaitu surah yang banyak ayatnya sekitar seratus
ayat atau lebih sedikit. Seperti Hud (123), Yusuf (111), Mu’min (118), dsb.
3. Al-Matsani, yaitu surah yang panjang ayatnya di bawah
Al-mi’un. Al-Fara’ berkata: yaitu surah yang jumlah ayatnya kurang sedikit dari
100 ayat. kata Al-Matsani artinya terulang-ulang, karena
surah-surah itu terulang-ulang dibaca dalam sholat dari pada Ath-Thiwal dan
Al-Miun. Seperti Al-Anfal (75), Al-Hijr(99) dsb.
4. Al-Mufashshal, yaitu surah yang panjang ayatnya mendekati Al-matsani
yang disebut juga sebagai surah pendek.
Menurut
An-Nawawi surah al-mufashshal ini adalah dari surah Al-hujarat sampai akhir
surah dalam Al-quran.
Al-mufashshal
ini dibagi lagi menjadi 3 bagian yaitu:
a. Ath-Thiwal
(panjang), yaitu al-mufashshal tetapi yang panjang. Dari surah Qaf atau dari
surah Al-Hujarat sampai dengan surah An-Naba’ atau surah Al-Buruj.
b. Al-Awsath
(pertengahan),yaitu surah Al-mufashshal yang pertengahan dari surah Ath-Thariq
sampai dengan surah Ad-dhuha atau Al-bayyinah.
c. Al-qishor
(pendek), yakni al-mufashshal yang pendek dari surah Ad-Dhuha atau surah
Al-bayyinah sampai dengan akhir surah dalam Al-qur’an yakni An-Nas.
D.
Penyusunan Surah dan
Tertibnya
Para ulama berbeda pendapat tentang tertib
(pengurutan) surat menjadi beberapa pendapat:
1. Tauqifi: Rasulullah saw. sendiri yang mengurusinya sesuai dengan apa
yang dikabarkan oleh Jibril as. berdasarkan perintah Allah SWT.
Al-Qur’an sejak zaman Rasulullah saw sudah tersusun
surat-surat dan ayat-ayatnya seperti tertib (urutan) yang ada di zaman kita
sekarang.
2. Ijtihad:Yaitu bahwa tertib surat berdasarkan ijtihad dari para Sahahabat Radhiyallahu
'anhum, buktinya adalah berbedanya mushaf-mushaf mereka di dalam
pengurutannya.
3.
Sebagian tauqifi dan sebagian dengan
ijtihad para Shahabat: As-Suyuti mengatakan: “Dan sesuatu yang melapangkan
dada ialah apa yang ditunjukkan oleh Al-Baihaqi bahwa sesungguhnya tertib
seluruh surah Al-Qur’an adalah tauqify, kecuali surah Al-Baraah dan surah
Al-Anfaal. Dan tidak semestinya meminta bereskan qiraat Rasulullah sawdalam
surah-surah yang berurutan, karena tertib surah-surahnya sudah begitu
keadaannya. Maka tidaklah ditolak hadits tentang qiraat Nabi dalam surah
An-Nisa sebelum surah Ali-Imron karena tertib surah-surah dalam qiraat itu
bukan wajib. Kemungkinan Nabi melakukan itu untuk menjelaskan kebolehan saja.[3]
E. Hikmah Pembagian Al-Qur’an dengan Surah-Surah
1.
Agar umat islam mudah mempelajari, memahami dan menghapalkan
Al-qur’an.
2.
Untuk menunjukkan pokok pembicaraan, karen setiap surat telah di
beri nama yang sesuai dengan isi kandungan surat yang bersangkutan.
3.
Untuk menunjukkan bahwakemu’jizatan Al-qur’an bukan terletak pada
panjangnya surat, tetapi juga surat-suratyang pendek dapat menjadi mu’jizat.[4]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar