Selasa, 23 Desember 2014

Makalah Ayat Al-Qur'an dan Susunannya



AYAT-AYAT AL-QUR’AN DAN SUSUNANNYA

A.   Pengertian Ayat

                   Ayat dari segi bahasa berarti: tanda, alamat, bukti / dalil, dan mukjijat.
Seperti kata ayat dalam surat Al-mu’minun:50
وجعلنا ابن مريم وامه ءاية
 “Dan telah kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami).”

       Menurut istilah adalah sebagai berikut:
والاية هي الجملة من كلام الله المندرجة في سورة من القرأن
“Ayat adalah sejumlah kalam Alloh yang masuk kedalam Al-Qur’an.”[1] 

       Menurut Al-Jabari yang dijelaskan oleh As-suyuthi dalam Al-Itqan, definisi ayat adalah bacaan yang tersusun dari beberapa kalimat sekalipun secara taqdiri (perkiraan) yang memiliki permulaan atau bagian yang masuk dalam surah.
       Dari dua definisi diatas dapat dikompromikan bahwa ayat adalah kalam Alloh yang berupa bacaan, terdiri dari kalimat atau beberapa kalimat sempurna, mempunyai permulaan dan akhiran, dan yang merupakan bagian dari surah.[2]

  B. Perbedaan Jumlah Ayat dan Sebabnya

            Menurut Ibnu Abbas jumlah ayat dalam Al-qur’an sebanyak 6.616 ayat. Adapun menurut keterangan yang masyhur berjumlah 6.666, jumlah angka ini yang paling mudah pada umumnya diingat oleh umat islam.
              Para ulama sepakat angka depan dari jumlah ayat yaitu 6.000, tetapi angka berikutnya diperselisihkan. Diantara mereka ada yang menghitung 6.213 ayat yaitu hitungan menurut penduduk Mekah, ada juga 6.214 ayat menurut hitungan penduduk Madinah, ada juga yang menghitung 6.216 ayat menurut hitungan penduduk Bashrah, dan ada juga yang menghitung 6.236 ayat hitungan penduduk Kufah.
             
Alasan perbedaan jumlah ayat ini diantaranya adalah:
1.       Karena Nabi saw. Pada suatu ketika mewaqofkan pada akhir suatu ayat (fashilah), ketika sudah dimaklumi oleh para sahabat banyak dilain waktu beliau mewashalkannya. Oleh sebagian pendengarannya (sahabat) menduga bukan akhir ayat.
2.       Para Ulama juga berbeda dalam menghitung fawatih as-suwar (permulaan surah) yang terdiri dari huruf hijaiyah atau al-ahruf al-muqaththa’ah (huruf-huruf yang terpotong). Sebagian ulama menghitung المص suatu ayat tetapi mereka tidak menghitung المر suatu ayat. Mereka menghitung يس suatu ayat, tetapi tidak menghitung طس  suatu ayat. Demikian juga mereka menghitung حمعسق dua ayat tetapi tidak menghitung كهيعص dua ayat padahal serupa dan hampir sama. Atau sebagian ulama menghitung fawatih as-suwar tersebut sebagai suatu ayat dan ulam lain tidak menghitungnya satu ayat.

Perbedaan perhitungan jumlah ayat tersebut hanya karena berbeda dalam menghitung sebagian ayat-ayat Al-qur’an apakah waqaf Nabi pada saat membacanya dihitung satu ayat atau waqaf ditengah-tengah ayat atau perbedaan dalam menghitung permulaan surah.

C. Tertib Ayat (Cara Mengetahui Awal dan Akhir Ayat)

            Tartib atau urutan ayat-ayat al-Qur’an ini adalah tauqifi dari Rasulullah SAW. (ketentuan dari Rasulullah SAW. atas petunjuk dari Allah melalui malaikat Jibril).
Sebagian ulama meriwayatkan bahwa pendapat ini adalah ijma’, di antaranya adalah al-Imanm al-Zarkasyi dalam kitabnya al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an dan Abu Ja’far Ibn Zubair dalam kitabnya al-Munasabah, di mana ia mengatakan: “Tartib ayat-ayat di dalam surah itu berdasarkan tauqifi dari Rasulullah dan atas perintahnya, tanpa diperselisihkan kaum muslimin.” Al-Imam al-Sayuti telah memastikan hal itu, ia berkata: “Ijma’ dan nas-nas serupa menegaskan, tertib ayat-ayat dan surah-surah itu adalah tauqifi, tanpa diragukan lagi.” Jibril menurunkan beberapa ayat kepad Rasulullah dan menunjukkan kepadanya tempat di mana ayat-ayat yang turun sebelumnya. Lalu Rasulullah memerintahkan kepada para penulis wahyu untuk menuliskannya di tempat tersebut. Ia mengatakan kepada mereka: “Letakkanlah ayat-ayat ini pada surah yang di dalamnya disebutkan begini dan begini.” Susunan dan penempatan ayat tersebut sebagaimana yang disampaikan para sahabat kepada kita. Usman bin Abi al-‘As berkata:
Aku tengah duduk di Samping Rasulullah, tiba-tiba pandangannya menjadi tajam lalu kembali seperti semula. Kemudian katanya, Jibril telah datang kepadaku dan memerintahkan agar aku meletakkan ayat ini di tempat anu dari surah ini : QS. al-Nahl,16:90......
Usman bin Affan berhenti ketika mengumpulkan al-Qur’an pada tempat setiap ayat dari sebuah surah dalam al-Qur’an dan sekalipun ayat itu telah dimansukh hukumnya, tanpa mengubahnya. Ini menunjukkan bahwa penulisan ayat dengan tertib seperti ini adalah tauqifi.
Pada sisis lain, Jibril senantiasa mengulangi dan memeriksa al-Qur’an yang telah disampaikannya kepada Rasulullah sekali setiap tahun, pada bulan Ramadhan dan pada tahun terakhir kehidupannya sebanyak dua kali. Dan pengulangan Jibril terakhir ini seperti tertib yang dikenal sekarang ini.

D. Rahasia Tertib Ayat (Faedah Mengetahui Ayat dan Tertibnya)
           
            Dengan lahirnya berbagai kritik dan pertanyaan-pertanyaan tentang urutan ayat dan surah-surah Al-Qur`an kita bisa mengambil hikmahnya bahwa dengannya telah menggugah para ulama untuk melahirkan karya-karya untuk menjawab kritikan-kritikan dan pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang diantaranya: Al-Khaththabi (319-388) dalam bukunya “Bayan I`jaz al-Qur`an” dengan jawaban bahwa tujuan digabungkannya berbagai persoalan yang dibahas dalam satu surat agar  setiap pembaca al-Qur`an dapat memperoleh sekian banyak petunjuk dalam waktu yang singkat tanpa membaca seluruh ayat-ayat al-Qur`an. Dan ada juga yang menjawabnya dengan alasan bahwa keanekaragaman persoalan yang dibahas dalam satu surah, sesuai dengan fitrah manusia agar tidak timbul kejenuhan dalam hatinya jika ia membaca satu persoalan saja, dan lahir juga buku Nazhm ad-Durar Fi Tanasub al-Ayat wa as-Suwar karya Ibrahim Ibn `Umar al-Biqa`i, yang konon penyusunannya demikian lama sampai 14 tahun penuh, dan juga ulama yang membicarakan hal tersebut adalah Jalaluddin as-Sayuthi dengan bukunya Asrar Tartib al-Qur`anatau dalam bukunya al-Itqan, dan bahkan selama 14 abad ini, khazanah intelektual Islam telah diperkaya dengan berbagai macam perspektif dan pendekatan dalam menafsirkan al-Qur`an. Walapun demikian terdapat kecenderungan yang umum untuk memahami al-Qur`an secara ayat perayat, bahkan kata perkata. Selain itu, pemahaman akan al-Qur`an terutama didasarkan pada pendekatan filologis-grametikal, pendekatan ayat perayat atau kata perkata ini tentunya akan menghasilkan pemahaman yang parsial (sepotong) tentang pesan al-Qur`an. Bahkan sering terjadi penafsiran semacam ini secara tidak semena-mena menanggalkan ayat dari konteks dan kesejarahannya untuk membela sudut pandang tertentu.

E. Pembagian Al-Qur’an
          Pembagian Al-Qur’an pada masa sahabat terbagi kepada ayat dan surah, sedangkan pada masa sesudah sahabat Al-Qur’an terbagi menjadi 1/2, 1/ 7, juz (1/30), Hizb dan Ruku’.
1.    Surat
          Jumlah surah-surah di dalam Al-Qur’an ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai hal ini. Ada yang menyebutnya bahwa jumlahnya 112 surah, 113 surah, 114 surah, 116 surah. Mushaf Usmani memuat jumlah surah Al-Qur’an sebanyak 114 surah. Sedangkan Mujahid yang menyebutkan bahwa Al-qur’an hanya terdiri dari 113 surah karena surah Al-Anfal dan At-Taubah merupakan satu ayat. Pendapat ini didsarkan karena surah At-taubah tidak mempunyai Basmalah dan isinya hamper sama dengan surah Al-Anfal. Ibnu Mas’ud  sendiri mencantumkan 112 surah karena 2 surah mu’awwizatain (Al-Falaq dan An-Nas) dianggapnya tidak merupakan surah Al-Qur’an kerena kedua surah tersebut lebih mirip kepada Mantra. Berbeda dengan dengan penpat-pendapat di atas Ubay bin Ka’ab menyebutkan bahwa jumlah surah did lam Al-Qur’an adalah 116 surah karena ia menganggap bahwa do’a iftitah dan do’a qunut sebagai dua surah di dalam bagian Al-Qura’an yang dinamakan dengan surah Al-Hafad dan surah Al-Khulu’.

2.    Ayat
          Jumlah Ayat didalam Al-Qura’an adalah 6236 ayat namun yang lebih masyhur adalah 6666 ayat. Ada beberapa perbedaan pendapat tentang jumlah ayat ini disebabkan para ahli ilmu Al-Qur’an berbeda memahami ayat tersebut sudah utuh atau masih menyambung dengan ayat sesudahnya. Imam Sayuti sendiri memuat 67 surah yang mempunyai perbedaan dalam jumlah ayatnya, sehingga apabila dijumlahkan keseluruhan adalah 6283 untuk pendapat paling banyak dan 6163 untuk pendapat yang paling sedikit. Sehingga penulis masih meraguakan dengan pendapat yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an terdiri dari 6666 ayat.
3.    Juz
          Pembagian Al qur’an selanjutnya adalah membaginya menjadi 30 juz, pembagian ini bertujuan untuk para penghafal Al-Qur’an yang mempunyai amalan menghatamkan Al-Qur’an dalam 30 hari. Selain itu pembagian ini biasanya juga dipakai dalam membaca surah dalam shalat tarawih sehingga pada tiap malamnya dibaca satu juz.
4.    Hizb
          Hizb meruapakan salah satu pembagian Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an terdapat 60 Hizb dan tiap-tiap satu Hizb dibagi empat. Tanda ¼ hijb ditulis dengan  ربع , tanda ½ Hizb ditulis dengan    نصف, dan tanda ¾ Hizb ditulis dengan ثلاث ارباع .
5.    Ruku
          Ruku’ di dalam Al-Qur’an ini terdiri dari 554 ruku’yang terdapat di dalam surah yang tersusun dari beberapa ayat. Surah yang panjang berisi beberapa Ruku’ sedang yang pendek berisi satu Ruku’. Ruku’ ini biasanya menjadi tanda untuk pemberhentian bacaan surah di dalam shalat, karena Rasululullah di dalam shalatnya selalu berhenti menbaca surah dalam shalat dan kemudian ruku’ ketika samapai pada ayat tersebut.
6.     Manzil
         Untuk tujuan hafalan ini juga Al-Qur’an di bagi kepada tujuh bagian untuk penghafal yang mengamalkan khatam dalam tujuh hari. Adapun letak satu pertujuh pertama terdapat pada surah 4 ayat 55, kedua di dalam surah 7 ayat 147, ketiga di dalam surah 13 ayat 35, keempat didalam surah 22 ayat 35, kelima di dalam surah 33 ayat 36, keenam di dalam surah 48 ayat 6.




[1] Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag. 2008. Praktikum Qira’at (Keanehan Bacaan Alquran qira’at Ashim dari Hafash). Hal.15
[2] Ibid. Hal.16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar