AYAT-AYAT AL-QUR’AN DAN SUSUNANNYA
A.
Pengertian Ayat
Ayat dari segi bahasa berarti: tanda,
alamat, bukti / dalil, dan mukjijat.
Seperti kata ayat dalam surat Al-mu’minun:50
وجعلنا ابن مريم
وامه ءاية
“Dan telah kami jadikan
(Isa) putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan
Kami).”
Menurut istilah adalah
sebagai berikut:
والاية هي
الجملة من كلام الله المندرجة في سورة من القرأن
“Ayat
adalah sejumlah kalam Alloh yang masuk kedalam Al-Qur’an.”[1]
Menurut Al-Jabari yang
dijelaskan oleh As-suyuthi dalam Al-Itqan, definisi ayat adalah bacaan yang
tersusun dari beberapa kalimat sekalipun secara taqdiri (perkiraan) yang
memiliki permulaan atau bagian yang masuk dalam surah.
Dari dua definisi
diatas dapat dikompromikan bahwa ayat adalah kalam Alloh yang berupa bacaan,
terdiri dari kalimat atau beberapa kalimat sempurna, mempunyai permulaan dan
akhiran, dan yang merupakan bagian dari surah.[2]
B. Perbedaan Jumlah Ayat dan Sebabnya
Menurut Ibnu Abbas jumlah ayat dalam Al-qur’an sebanyak 6.616 ayat.
Adapun menurut keterangan yang masyhur berjumlah 6.666, jumlah angka ini yang
paling mudah pada umumnya diingat oleh umat islam.
Para ulama
sepakat angka depan dari jumlah ayat yaitu 6.000, tetapi angka berikutnya
diperselisihkan. Diantara mereka ada yang menghitung 6.213 ayat yaitu hitungan
menurut penduduk Mekah, ada juga 6.214 ayat menurut hitungan penduduk Madinah,
ada juga yang menghitung 6.216 ayat menurut hitungan penduduk Bashrah, dan ada
juga yang menghitung 6.236 ayat hitungan penduduk Kufah.
Alasan perbedaan jumlah ayat ini diantaranya adalah:
1.
Karena Nabi saw. Pada suatu ketika mewaqofkan pada akhir suatu ayat
(fashilah), ketika sudah dimaklumi oleh para sahabat banyak dilain waktu beliau
mewashalkannya. Oleh sebagian pendengarannya (sahabat) menduga bukan akhir
ayat.
2.
Para Ulama juga berbeda dalam menghitung fawatih as-suwar
(permulaan surah) yang terdiri dari huruf hijaiyah atau al-ahruf
al-muqaththa’ah (huruf-huruf yang terpotong). Sebagian ulama menghitung المص
suatu ayat tetapi mereka tidak menghitung المر
suatu ayat. Mereka menghitung يس suatu ayat, tetapi tidak menghitung طس suatu ayat. Demikian juga mereka menghitung حمعسق
dua ayat tetapi tidak menghitung كهيعص
dua ayat padahal serupa dan hampir sama. Atau sebagian ulama menghitung fawatih
as-suwar tersebut sebagai suatu ayat dan ulam lain tidak menghitungnya satu
ayat.
Perbedaan perhitungan jumlah ayat tersebut hanya karena berbeda
dalam menghitung sebagian ayat-ayat Al-qur’an apakah waqaf Nabi pada saat
membacanya dihitung satu ayat atau waqaf ditengah-tengah ayat atau perbedaan
dalam menghitung permulaan surah.
C. Tertib Ayat (Cara Mengetahui Awal dan Akhir Ayat)
Tartib atau urutan ayat-ayat al-Qur’an ini
adalah tauqifi dari Rasulullah SAW. (ketentuan dari
Rasulullah SAW. atas petunjuk dari Allah melalui malaikat Jibril).
Sebagian ulama meriwayatkan bahwa pendapat ini
adalah ijma’, di antaranya adalah al-Imanm al-Zarkasyi dalam
kitabnya al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an dan Abu Ja’far Ibn
Zubair dalam kitabnya al-Munasabah, di mana ia mengatakan:
“Tartib ayat-ayat di dalam surah itu berdasarkan tauqifi dari
Rasulullah dan atas perintahnya, tanpa diperselisihkan kaum muslimin.” Al-Imam
al-Sayuti telah memastikan hal itu, ia berkata: “Ijma’ dan nas-nas serupa
menegaskan, tertib ayat-ayat dan surah-surah itu adalah tauqifi,
tanpa diragukan lagi.” Jibril menurunkan beberapa ayat kepad Rasulullah dan
menunjukkan kepadanya tempat di mana ayat-ayat yang turun sebelumnya. Lalu
Rasulullah memerintahkan kepada para penulis wahyu untuk menuliskannya di
tempat tersebut. Ia mengatakan kepada mereka: “Letakkanlah ayat-ayat ini pada
surah yang di dalamnya disebutkan begini dan begini.” Susunan dan penempatan
ayat tersebut sebagaimana yang disampaikan para sahabat kepada kita. Usman bin
Abi al-‘As berkata:
Aku tengah duduk di Samping Rasulullah,
tiba-tiba pandangannya menjadi tajam lalu kembali seperti semula. Kemudian
katanya, Jibril telah datang kepadaku dan memerintahkan agar aku meletakkan
ayat ini di tempat anu dari surah ini : QS. al-Nahl,16:90......
Usman bin Affan berhenti ketika mengumpulkan al-Qur’an
pada tempat setiap ayat dari sebuah surah dalam al-Qur’an dan sekalipun ayat
itu telah dimansukh hukumnya, tanpa mengubahnya. Ini menunjukkan bahwa
penulisan ayat dengan tertib seperti ini adalah tauqifi.
Pada sisis lain, Jibril senantiasa mengulangi dan
memeriksa al-Qur’an yang telah disampaikannya kepada Rasulullah sekali setiap
tahun, pada bulan Ramadhan dan pada tahun terakhir kehidupannya sebanyak dua
kali. Dan pengulangan Jibril terakhir ini seperti tertib yang dikenal sekarang
ini.
D. Rahasia Tertib Ayat (Faedah Mengetahui Ayat dan Tertibnya)
Dengan lahirnya berbagai kritik dan
pertanyaan-pertanyaan tentang urutan ayat dan surah-surah Al-Qur`an kita bisa
mengambil hikmahnya bahwa dengannya telah menggugah para ulama untuk melahirkan
karya-karya untuk menjawab kritikan-kritikan dan pertanyaan-pertanyaan
tersebut, yang diantaranya: Al-Khaththabi (319-388) dalam bukunya “Bayan
I`jaz al-Qur`an” dengan jawaban bahwa tujuan digabungkannya berbagai
persoalan yang dibahas dalam satu surat agar setiap pembaca al-Qur`an
dapat memperoleh sekian banyak petunjuk dalam waktu yang singkat tanpa membaca
seluruh ayat-ayat al-Qur`an. Dan ada juga yang menjawabnya dengan alasan bahwa
keanekaragaman persoalan yang dibahas dalam satu surah, sesuai dengan fitrah
manusia agar tidak timbul kejenuhan dalam hatinya jika ia membaca satu
persoalan saja, dan lahir juga buku Nazhm ad-Durar Fi Tanasub
al-Ayat wa as-Suwar karya Ibrahim Ibn `Umar al-Biqa`i, yang konon
penyusunannya demikian lama sampai 14 tahun penuh, dan juga ulama yang
membicarakan hal tersebut adalah Jalaluddin as-Sayuthi dengan bukunya Asrar
Tartib al-Qur`anatau dalam bukunya al-Itqan, dan bahkan
selama 14 abad ini, khazanah intelektual Islam telah diperkaya dengan berbagai
macam perspektif dan pendekatan dalam menafsirkan al-Qur`an. Walapun demikian
terdapat kecenderungan yang umum untuk memahami al-Qur`an secara ayat perayat,
bahkan kata perkata. Selain itu, pemahaman akan al-Qur`an terutama didasarkan
pada pendekatan filologis-grametikal, pendekatan ayat perayat atau
kata perkata ini tentunya akan menghasilkan pemahaman yang parsial (sepotong)
tentang pesan al-Qur`an. Bahkan sering terjadi penafsiran semacam ini secara
tidak semena-mena menanggalkan ayat dari konteks dan kesejarahannya untuk
membela sudut pandang tertentu.
E. Pembagian Al-Qur’an
Pembagian Al-Qur’an pada masa sahabat terbagi kepada ayat dan surah,
sedangkan pada masa sesudah sahabat Al-Qur’an terbagi menjadi 1/2, 1/ 7, juz
(1/30), Hizb dan Ruku’.
1.
Surat
Jumlah surah-surah di dalam Al-Qur’an
ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai hal ini. Ada yang menyebutnya bahwa
jumlahnya 112 surah, 113 surah, 114 surah, 116 surah. Mushaf Usmani memuat
jumlah surah Al-Qur’an sebanyak 114 surah. Sedangkan Mujahid yang menyebutkan
bahwa Al-qur’an hanya terdiri dari 113 surah karena surah Al-Anfal dan
At-Taubah merupakan satu ayat. Pendapat ini didsarkan karena surah At-taubah
tidak mempunyai Basmalah dan isinya hamper sama dengan surah Al-Anfal. Ibnu
Mas’ud sendiri mencantumkan 112 surah karena 2 surah mu’awwizatain
(Al-Falaq dan An-Nas) dianggapnya tidak merupakan surah Al-Qur’an kerena kedua
surah tersebut lebih mirip kepada Mantra. Berbeda dengan dengan penpat-pendapat
di atas Ubay bin Ka’ab menyebutkan bahwa jumlah surah did lam Al-Qur’an adalah
116 surah karena ia menganggap bahwa do’a iftitah dan do’a qunut sebagai dua
surah di dalam bagian Al-Qura’an yang dinamakan dengan surah Al-Hafad dan surah
Al-Khulu’.
2.
Ayat
Jumlah Ayat didalam Al-Qura’an adalah
6236 ayat namun yang lebih masyhur adalah 6666 ayat. Ada beberapa perbedaan
pendapat tentang jumlah ayat ini disebabkan para ahli ilmu Al-Qur’an berbeda
memahami ayat tersebut sudah utuh atau masih menyambung dengan ayat sesudahnya.
Imam Sayuti sendiri memuat 67 surah yang mempunyai perbedaan dalam jumlah
ayatnya, sehingga apabila dijumlahkan keseluruhan adalah 6283 untuk pendapat
paling banyak dan 6163 untuk pendapat yang paling sedikit. Sehingga penulis
masih meraguakan dengan pendapat yang menyebutkan bahwa Al-Qur’an terdiri dari
6666 ayat.
3.
Juz
Pembagian Al qur’an selanjutnya adalah
membaginya menjadi 30 juz, pembagian ini bertujuan untuk para penghafal
Al-Qur’an yang mempunyai amalan menghatamkan Al-Qur’an dalam 30 hari. Selain
itu pembagian ini biasanya juga dipakai dalam membaca surah dalam shalat
tarawih sehingga pada tiap malamnya dibaca satu juz.
4.
Hizb
Hizb meruapakan salah satu pembagian
Al-Qur’an. Di dalam Al-Qur’an terdapat 60 Hizb dan tiap-tiap satu Hizb dibagi
empat. Tanda ¼ hijb ditulis dengan ربع , tanda ½ Hizb ditulis dengan نصف, dan tanda ¾ Hizb ditulis dengan ثلاث ارباع
.
5.
Ruku
Ruku’ di dalam Al-Qur’an ini terdiri
dari 554 ruku’yang terdapat di dalam surah yang tersusun dari beberapa ayat.
Surah yang panjang berisi beberapa Ruku’ sedang yang pendek berisi satu Ruku’.
Ruku’ ini biasanya menjadi tanda untuk pemberhentian bacaan surah di dalam
shalat, karena Rasululullah di dalam shalatnya selalu berhenti menbaca surah
dalam shalat dan kemudian ruku’ ketika samapai pada ayat tersebut.
6. Manzil
Untuk tujuan hafalan ini juga Al-Qur’an di bagi kepada tujuh bagian
untuk penghafal yang mengamalkan khatam dalam tujuh hari. Adapun letak satu
pertujuh pertama terdapat pada surah 4 ayat 55, kedua di dalam surah 7 ayat
147, ketiga di dalam surah 13 ayat 35, keempat didalam surah 22 ayat 35, kelima
di dalam surah 33 ayat 36, keenam di dalam surah 48 ayat 6.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar